SANTRI KIRI

Santri yang diindetik dengan memakai sarung, baju koko dan peci dekil. Santri tidak saja belajar kitab kuning tetapi juga kitab putih. Walau santri berpenampilan kampungan tetapi juga belajar idelogi dunia dan filsafat. Walau tiap hari hanya makan nasi dengan lauk garam kadang puasa karena tidak punya makanan. Mandinya di sungai dengan sabun cuci karena sabun mandi tidak kebeli. Santri ini adalah santri kampung yang tidak mengenal gaya kota. Tapi otaknya tidak kampungan. Kawan santri semua, group ini tempatnya fardhu ‘ain untuk beda pendapat dan sepakat untuk tidak sepakat. TAPI SANTRI KIRI TIDAK ATEIS.

Pemikiran Politik

Pemikiran Politik
oleh : Wisnu Sudibjo
Pemikiran Politik adalah pemikiran yang berkaitan dengan pengaturan dan pemeliharaan urusan umat. Pengertian ini berbeda sama sekali dengan apa yang didefinisikan oleh para pemikir politik barat. Para pemikir politik barat itu mendefinisikan politik sebagai cara untuk mendapatkan kekuasaan, menjaganya dan melaksanakan kekuasaannya itu.

Maka tidak mengherankan apabila terdapat perbedaan kultur atau sifat politik dalam daulah Islam masa lalu dengan kultur politik masa kini. Sebagai contoh, pada masa lalu yang menjadi perhatian para sahabat Rasul adalah bagaimana caranya supaya seluruh kebutuhan pokok rakyat dapat terpenuhi dengan mudah bahkan gratis. Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab beliau membangun rumah tepung ( dar ad-daqiq ) untuk para musafir yang tidak memiliki bekal dalam perjalanan. Juga dapat kita lihat betapa besarnya perhatian Khalifah Umar bin Abdul Aziz kala itu terhadap kehidupan ekonomi rakyatnya. Alkisah saat akan dibagikan harta zakat kepada penduduk di wilayah Islam yang berada di Afrika, para amil atau kolektor zakat kesulitan untuk mencari orang yang mau menerimanya.

Coba bandingkan dengan kehidupan politik masa sekarang. Yang ada dalam benak para politisi sekarang ini hanyalah bagaimana caranya untuk mendapatkan kekuasaan itu. Berbagai cara mereka lakukan asalkan bisa mendapatkan tempat di pemerintahan. Bahkan tidak jarang partai yang berlabel Islam sekalipun mau untuk berkolaborasi dengan partai sekuler hanya untuk mengegolkan salah satu calonnya menjadi kepala daerah dsb. Fenomena lainnya adalah umbar – umbar janji yang dilakukan hanya semasa pemilu saja. Mereka banyak mengumbar janji – janji populis seperti kesejahteraan rakyat dsb hanya saat pemilu saja. Setelah pemilu berakhir maka rakyat seolah – olah tidak ada di hadapan mereka.

Inilah sebuah realita yang kita hadapi bersama. Akan tetapi seringkali rakyat tidak menyadari bahwa Islam dengan pemikiran politiknya yang memang benar – benar peduli terhadap rakyat tanpa mengharap imbalan sedikitpun. Tidak imbalan kekuasaan, tidak imbalan harta dan juga tidak tawaran – tawaran lain yang akan membujuk rayu para pengembannya untuk menerapkan Islam dengan sempurna. Tujuan para pemikir politik Islam itu hanyalah satu yaitu ditegakkannya syariat Allah Swt. di muka bumi ini. Tidak peduli siapa yang akan memegang kekuasaannya, tidak peduli siapapun yang memerintah asalkan syariat-Nya ditegakkan.

Aqidah Islam adalah suatu pemikiran politik.
Berbicara mengenai aqidah maka kita akan berbicara mengenai keyakinan yang bersifat pasti yang diambil melalui bukti – bukti yang kuat. Bukti – bukti yang kuat ini merupakan bukti yang bersifat aqliyah, artinya bukti tersebut adalah rasional tidak merupakan doktrin yang bersifat “pokoknya begitu” . Seseorang sangat dianjurkan untuk mempertanyakan kebenaran aqidah Islam. Karena dengan begitu seseorang akan mencari bukti yang kuat mengenai kebenaran Islam. Sedangkan bukti – bukti mengenai kebenaran Islam itu telah tersedia banyak pada masa sekarang ini. Misalnya saja penjelasan al-Quran mengenai cara turunnya hujan yang baru diketahui abad – abad belakangan. Padahal untuk masa itu ilmu pengetahuan semacam itu belum dapat dijelaskan.

Konsekuensi dari meyakini aqidah Islam adalah meyakini bahwa Islam mengatur segala aspek kehidupan manusia. Mulai dari aspek Ibadah, pakaian, pernikahan, social, sanksi dan sebagainya. Sebagai penyederhanaan atau pemetaan aqidah agar lebih mudah dimengerti, maka akan kita bagi lagi pembahasan aqidah tersebut menjadi dua sub bahasan. Pembagian ini semata – mata hanyalah untuk kemudahan kita dalam memahaminya saja. Karena Rasul Saw. pun tidak pernah membuat pembagian – pembagian seperti ini. Dua sub bahasan tersebut adalah Islam sebagai aqidah spiritual dan politik.

Yang dimaksud dengan aqidah spiritual adalah konsekuensi dari keimanan seseorang yang mengharuskan orang tersebut untuk menjalankan segala sesuatu yang bersifat ritual. Ibadah ritual di sini adalah ibadah yang merupakan hubungan antara seorang hamba dengan penciptanya seperti shalat, zakat, puasa, haji dsb.

Sedangkan yang dimaksud dengan aqidah politik adalah kesempurnaan Islam yang juga mengatur dan memelihara berbagai persoalan dan urusan umat. Sebagai contoh misalnya dalam bidang pendidikan. Dalam bidang pendidikan, Islam menggariskan bahwa pendidikan yang harus dijalankan oleh pemerintah adalah pendidikan yang Islami bukan pendidikan yang sekuler seperti sekarang ini. Islam menjadi asas kurikulumnya serta beban biaya yang sepenuhnya menjadi beban Negara.

Jadi yang diinginkan dari adanya konsep aqidah politik di sini adalah pemahaman akan sempurnanya syariat Islam yang juga mengatur masalah – masalah yang bersifat public. Tidak hanya pemahaman terhadap aqidah spiritual yang hanya akan dilaksanakan di tempat – tempat ibadah saja. Tetapi juga mencakup semua bidang kehidupan termasuk kehidupan masyarakat secara umum.
Perbedaan aqidah Islam dengan aqidah dan ideology lain adalah aqidah Islam merupakan aqidah politik dan spiritual. Di sinilah keunikan Islam yang sempurna. Islam sebagai agama mengatur tidak hanya masalah ke-akhiratan saja tetapi juga mengatur masalah keduniaan seperti hukum jual beli, militer, pendidikan, ekonomi, bahkan lebih jauh lagi juga mengatur Negara. Islam sebagai ideology juga tidak hanya mengatur masalah keduniaan saja sebagaimana layaknya Kapitalisme ataupun Sosialisme. Tetapi Islam juga mengatur masalah keakhiratan. Ini adalah point yang tidak dimiliki oleh agama dan ideology manapun.

Sebenarnya penggunaan istilah agama dan ideology terhadap Islam merupakan istilah yang baru muncul belakangan ini. Pada masa dahulu kaum muslimin telah paham bahwa apabila disebut Islam sebagai Diin maka artinya adalah Islam itu mengatur setiap aspek kehidupan. Umat – umat terdahulu tidak perlu menggunakan istilah – istilah agama dan ideology untuk mengungkapkan Islam. Jadi penyebutan bahwa Islam itu adalah agama sekaligus ideology hanyalah untuk mempermudah pemahaman kaum muslimin sekarang ini saja.
Marilah kita renungkan sejenak firman Allah Swt. berikut.

(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. QS. An-Nahl : 89.

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS. Al-Maidah : 3.

Hilangnya hukum dan pemikiran yang bersumber dari aqidah Islam ini memberikan dampak yang besar bagi kehidupan umat Islam. Saat ini umat Islam tidak mengetahui lagi siapa sebenarnya mereka. Mereka jauh lebih paham dan jauh lebih mengerti mengenai hukum dan pemikiran kapitalisme ataupun sosialisme. Mereka seolah – olah tidak pernah berkenalan dengan hukum dan pemikiran Islam. Bahkan sampai pada wacana bahwa Islam itu suci, akan tetapi politik itu kotor, maka kita tidak boleh membawa – bawa agama dalam kancah politik. Begitulah parahnya pemahaman umat Islam terhadap agama mereka sendiri.

Di sinilah aqidah Islam akan mempersatukan pandangan kaum muslimin yaitu sudut pandang halal dan haram dan menjadikannya sebagai tolok ukur. Pandangan dan tolok ukur inilah yang semata – mata digunakan. Bukan tolok ukur manfaat, bukan pula tolok ukur materi. Pengharaman demokrasi adalah suatu hal yang bersifat mutlak. Dengan alasan maslahat apapun kita tidak diperbolehkan untuk terlibat didalamnya. Demikianlah ketegasan tolok ukur tersebut,meskipun umat Islam tidak memiliki representative didalam DPR, MPR dsb. Karena yang diridhai oleh Allah Swt. hanyalah Islam dengan khilafahnya bukan demokrasi kufur.

Aqidah Islam mewajibkan kaum muslimin dalam berbagai partai, kelompok, dan organisasi untuk berjuang melanjutkan kehidupan Islami dan menyampaikan dakwah Islam, dalam rangka memecahkan permasalahan utama kaum muslimin. Maka tidak dibenarkan bagi berbagai kelompok dan partai tersebut berorientasi pada kekuasaan, apatah lagi berorientasi pada uang. Dua hal ini merupakan dua kerabat yang saling bersaudara dan berdekatan. Apabila di sana ada kekuasaan maka biasanya di sana pula ada uang begitu juga sebaliknya.

Pada masa seperti ini ( masa ketika khilafah Islam belum tegak ), maka yang harus dilakukan oleh berbagai kelompok tersebut adalah bersungguh – sungguh untuk menegakkannya. Kita tidak boleh terbelokkan dengan aktivitas – aktivitas yang bersifat khairiyah ( kebaikan ) seperti membangun masjid – masjid, mendirikan sekolah – sekolah dll. Berbagai permasalahan yang dihadapi oleh umat sekarang ini adalah permasalahan system yang sangat mendasar. Permasalahan social, bukan lagi permasalahan individu. Permasalahan ketika tidak hanya satu atau dua orang yang miskin tetapi hampir mayoritas dari umat ini. Keadaan seperti ini bisa disebabkan oleh dua kemungkinan yaitu individunya yang tidak berkualitas atau sistemnya yang rusak. Dalam konteks keadaan kaum muslimin sekarang ini, maka ini semua tidak lain disebabkan oleh system yang sengaja membuat keadaan mereka menjadi seperti itu. Karena bila ini adalah permasalahan individu tentu hanyalah satu atau dua orang saja yang gagal. Tetapi bila hampir semuanya yang gagal maka ini adalah persoalan sistemik. Oleh karena itu berbagai kelompok tersebut haruslah berkonsentrasi untuk mengubah system yang mengatur kehidupan mereka secara mendasar.

Untuk dapat bangkit kembali, umat Islam harus menggunakan aqidah Islam sebagai pondasi bagi kehidupannya, dan menegakkan pemerintahan dan kekuasaan berdasarkan pondasi tersebut. Hal ini merupakan suatu keniscayaan yang merupakan janji dari Allah Swt.

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik QS.an-Nur : 55.

Dalam ayat tersebut Allah Swt. mensyaratkan adanya keimanan dan amal – amal yang saleh sebelum memberikan kekuasaan di muka bumi sebagaimana orang – orang sebelum kita pernah menjadi penguasa bumi ini. Dari sinilah bahwa ketika kita taat pada syariat Allah Swt. disitulah manfaat dan maslahat kita dapatkan baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya apa yang kita katakan sebagai maslahat belum tentu itu merupakan maslahat yang sesungguhnya bagi kita. Demokrasi adalah contoh terbaik mengenai apa yang kita anggap baik tetapi pada faktanya dia hanyalah pembawa kesengsaraan di dunia dan di akhirat nanti. Berbagai kerusakan yang ditimbulkannya seperti kesenjangan social, pembantaian suatu Negara hanya tuk minyak, penjarahan kekayaan alam milik rakyat, pendidikan mahal dsb cukup untuk menjadi bukti. Maka kemuliaan umat Islam hanya bisa dan jika Islam mereka terapkan dalam setiap aspek kehidupan mereka.

Umat Islam memeluk aqidah Islam sebagai suatu pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan; sebagai aqidah politik; sebagai dasar pemikiran intelektual ( qaidah fikriyah); kepemimpinan ideologis ( qiyadah fikriyah ); dan sebagai sudut pandang yang khas tentang kehidupan. Umat Islam memeluk suatu pemikiran politik tentang kehidupan, dan mereka juga menerima suatu metode ( thariqah ) untuk menerapkan pemikiran tersebut dalam kehidupan. Sehingga pemikiran – pemikiran Islam tidak hanya menjadi semacam filsafat tanpa adanya penerapan dalam kehidupan riil. Ketika Islam tidak diterapkan sesuai dengan metode yang digariskannya maka sejak saat itulah Islam hanya akan menjadi hayalan dalam buku – buku perpustakaan. Apa yang ditawarkan oleh Islam adalah sesuatu yang riil yaitu aturan beserta metode untuk menerapkannya. Ketika ini telah dapat digabungkan, yaitu antara pemikiran dan metodenya, maka disinilah Islam sebagai rahmatan lilalamin itu dapat terwujud. Permasalahan Islam tidak dapat menjadi rahmatan lilalamin sekarang ini hanyalah disebabkan oleh tidak diberinya kesempatan untuk menerapkannya secara kaffah itu saja. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: