SANTRI KIRI

Santri yang diindetik dengan memakai sarung, baju koko dan peci dekil. Santri tidak saja belajar kitab kuning tetapi juga kitab putih. Walau santri berpenampilan kampungan tetapi juga belajar idelogi dunia dan filsafat. Walau tiap hari hanya makan nasi dengan lauk garam kadang puasa karena tidak punya makanan. Mandinya di sungai dengan sabun cuci karena sabun mandi tidak kebeli. Santri ini adalah santri kampung yang tidak mengenal gaya kota. Tapi otaknya tidak kampungan. Kawan santri semua, group ini tempatnya fardhu ‘ain untuk beda pendapat dan sepakat untuk tidak sepakat. TAPI SANTRI KIRI TIDAK ATEIS.

LAPORAN KHUSUS KONFERENSI KHILAFAH INTERNASIONAL

LAPORAN KHUSUS KONFERENSI KHILAFAH INTERNASIONAL AUSTRALIA
Pengantar

Pada 27 Januari 2007 yang lalu , Hizbut Tahrir Australia mengadakan International Khilafah Conference di Sydney. Kegiatan ini berlangsung sukses meskipun dibawah tekanan, intimidasi dan kampanye hitam. Seperti yang dikatakan Wassim Doureihi, Media Representative atau Jurubicara Hizbut Tahrir Australia di akhir acara: “Konferensi khilafah ini dilaksanakan dibawah tekanan, intimidasi dan kampanye hitam yang menimbulkan salah informasi. Suksesnya konferensi ini menunjukkan dengan sangat gamblang keinginan komunitas muslim di Australia untuk menolak setiap usaha membungkam aspirasi politik Islam.” Berikut laporannya. (Redaksi http://www.hizbut-tahrir.or.id)

Gaung Khilafah di Negeri Kanguru
Sekitar 500 orang lelaki dan perempuan berwajah Melayu, Arab, India Pakista juga wajah-wajah bule, pagi itu, 28 Januari 2007 lalu memenuhi White Castle Function Center, sebuah gedung pertemuan yang tidak terlalu besar di Jalan Canterbury 925, Lakemba, di pinggiran kota Sydney, Australia. Lakemba sendiri adalah sub urban, semacam kota kecamatan, yang dikenal sebagai sentra pemukiman imigran muslim, utamanya dari Libanon dan Indonesia. Suasana di ruangan konferensi sendiri tampak sangat romantis. Ada peserta yang bilang, “kita seperti menghadiri pesta pernikahan”. Memang, ruangan ditata apik. Dinding backdrop dipenuhi dengan juluran kain tipis berwarna putih (namanya juga white castle). Sementara, di bagian atas dihiasi juluran kain berpola konsentris menutupi atap gedung yang memang juga tidak terlalu tinggi.

Mereka datang untuk mengikuti konferensi khilafah yang baru pertama kali diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Australia. Untuk diketahui, audien sekitar 500 orang adalah jumlah yang cukup banyak untuk ukuran di sana, apalagi mengingat acara konferensi itu jauh hari telah menyulut kontroversi sengit di kalangan para politisi di Australia. “Awalnya saya pikir yang datang pasti hanya sedikit, karena sudah banyak berita yang serem-serem di media cetak dan elektronik. Belum lagi pembatalan dari pihak gedung di Bankstown Alhamdulillah, ternyata ummat Islam di sini sudah mulai bisa menilai objektif berita-berita tentang Islam di media. Justru berita-berita itu menjadi iklan gratis juga”, kata seorang muslimah aktivis HT Australia. Memang, semula acara akan diselenggarakan di Bankstown Hall yang jauh lebih representative, tapi karena tekanan media massa yang terus menerus mempersoalkan acara ini, akhirnya manajemen gedung membatalkan secara sepihak.

Bagi sebagian publik Australia, acara konferensi ini tampaknya memang tidak boleh dibiarkan aman berjalan begitu saja. Koran The Daily Telegraph misalnya, seminggu sebelum acara secara keras menyoroti rencana kedatangan Jubir HTI M. Ismail Yusanto dalam konferensi itu. Pada edisi 22 Januari di halaman 2 dibawah judul Sharia Law for Sydney, Extrimist’s radical plan, koran terkemuka di Australia itu menyebut Ismail yang dikenal di Indonesia sebagai ekstrimis yang menuntut penerapan syariah di Indonesia, yang pernah menyebut Bush dan Blair sebagai teroris dan menyeru supaya keduanya dihukum, akan menjelaskan bagaimana cita-cita itu bisa dicapai di Australia. Mereka juga mempersoalkan mengapa orang seperti ini, yang pernah menyerukan untuk menutup kedutaan Ausie di Jakarta dan menyita aset-aset perusahaan Ausie bisa mendapatkan visa. Pertanyaan yang kemudian ditanggapi oleh Menteri Imigrasi dengan tekadnya untuk meneliti visa Ismail dan kalau perlu akan mencabutnya (sesuatu yang tidak pernah dilakukan sampai Jubir HTI itu kembali ke tanah air lima hari sesudah konferensi).

Koran The Daily Telegraph pula di edisi Senin, 29 Januari, sehari setelah konferensi, dengan judul ‘Aussie Muslims told: Be prepared for jihad’ di kolom kecilnya dengan sub judul ‘A party for preaching’ menginsinuasi pembaca secara licik tentang radikalisme dalam forum itu. Dalam artikel itu dikatakan bahwa pertemuan 500 muslim di Lakemba seperti acara yang menyenangkan – much like a birthday party or family reunion’. Setiap orang yang datang saling bersalaman dan disambut dengan senyum hangat dari anggota Hizbut Tahrir yang membuat semua orang nyaman dengan pertemuan saat itu. Para sister (istilah untuk muslimah) duduk di bagian sister. Sementara yang laki-laki duduk di bagian brother (muslim). Sebagian panitia tampak sedang menyiapkan pameran buku dan makan siang gratis. “Semuanya tidak tampak sebagai ekstrimis dan radikal hingga mereka membuka mulutnya, dan memulai orasinya”, kata The Daily Telegraph.

Menghadirkan 4 pembicara, acara konferensi diawali dengan pengantar oleh Wassim Doureihi, Jubir HT Australia, dilanjutkan oleh pembicara pertama, Sheikh Issam Amera (Abu Abdullah) dari Hizbut Tahrir Palestina yang berbicara dengan topik The khilafah is Vital Obligation and Ramification of its Absence. Setelah diselingi presentasi video: Islam and Khilafah, acara dilanjutkan orasi kedua oleh Ashraf Doureihi (Hizbut Tahrir Australia) dengan topik The Method to re-Establish the Islamic State – following the prophetic method. Setelah istirahat untuk shalat dhuhur dan makan siang, acara dilanjutkan dengan presentasi video: The Khilafah is a Vital Issue dan pembicara ketiga, Muhammad Ismail Yusanto (Jubir HTI) dengan topik Potential Challenges after the re-Establishment of the Khilafah. Topik keempat 21st Century: Islam or Capitalism? disampaikan oleh Maryam Brack (muslimah asli Australia yang menjadi aktivis Hizbut Tahrir Australia)

Dalam orasinya, Shiek Issam Amera mengingatkan hadirin tentang betapa sangat urgennya menegakkan kembali khilafah Islam. Tanpa khilafah terbukti dampaknya sangat buruk buat kehidupan umat Islam dan umat manusia secara keseluruhan dalam seluruh aspek kehidupan. Maka, Ashraf Doureihi menjelaskan garis besar metode atau jalan dalam menegakkan kembali khilafah mengikuti thariqah dakwah Rasulullah melalui dakwah politis dan perubahan pemikiran dalam sebuah jamaah hingga hijrahnya ke Madinah menegakkan Negara Islam pertama. Sementara Muhammad Ismail Yusanto menjelaskan tantangan-tantangan yang bakal dihadapi, baik secara internal maupun eksternal pasca berdirinya kembali khilafah Islam dan bagaimana umat Islam dan khalifah harus mengatasi tantangan-tantangan itu hingga khilafah bisa tetap berdiri. Maryam Brack menjelaskan Islam sebagai satu-satunya alternatif bagi kehidupan manusia setelah kehancuran kapitalisme. Tidak ada lain. Acara konferensi diakhiri dengan sesi tanya jawab dan ditutup dengan pembacaan deklarasi oleh Muhammad Siddiq, aktivis Hizbut Tahrir Australia keturunan Palestina dan doa oleh Sheikh Issam Amera.

Sebelum memimpin doa, Sheikh Issam Amera memberikan taushiyah yang sangat menyentuh. Ia menegaskan bahwa pertemuan ini bukanlah untuk mengajak orang Islam menjadi anggota Hizbut Tahrir. Pertemuan ini hanyalah upaya untuk memberikan solusi terbaik bagi umat Islam dan umat manusia secara keseluruhan; hanya menginginkan orang mengenal ide khilafah, kemudian mengkaji dan mendukungnya; hanya ingin orang sadar akan kondisi umat Islam dewasa ini dan sadar bahwa sistem kapitalisme telah membawa malapetaka bagi seluruh umat manusia. Ia juga menjelaskan, bahwa dakwah kita adalah mengajak orang untuk memeluk Islam secara kaffah. Bila tujuan dakwah kita hanya ingin mengajak orang untuk mengikuti partai atau kelompok kita, berarti dakwah semacam itu hanya bersifat kelompok. Tidak universal. Hizbut Tahrir di Australia misalnya, mungkin hanya dikenal oleh media dan pemerintah pemerintah saja. Tapi Islam jauh lebih luas dikenal, maka ketika berdakwah janganlah kita mengajak orang kepada partai, tapi ajaklah ia untuk mengenal Islam dan kembali menjadi muslim yang kaffah. Bahwa di tengah umat Islam ada banyak golongan, menurut Issam Amera, tidaklah masalah, yang penting bisa saling menjaga ukhuwah dan silaturahmi. Dan yang lebih penting lagi bisa bekerjasama (bukan saling memusuhi) untuk mengembalikan kejayaan ummat ini dengan mendirikan Khilafah Islamiyah.

Sheikh Issam Amera juga mengingatkan kepada para peserta, setelah keluar dari gedung ini, harap memilih tokoh sahabat sebagai figure untuk dicontoh. Beliau menunjuk sahabat Bilal, yang tetap kokoh dengan keimanannya meskipun disiksa sedemikian rupa. Atau sahabat Muaz bin Umair, yang berani meninggalkan segalanya hanya untuk Islam, dan kemudian dikirim Rasulullah SAW ke Madinah untuk menyebarkan Islam yang akhirnya banyak penduduk Madinah menjadi muslim, bahkan menjadi tempat hijrah Rasulullah dari Makkah untuk menegakkan Negara Islam pertama.

Para peserta menyimak orasi tiap pembicara dengan seksama. Tidak tampak keriuhan atau para peserta sibuk berbicara sendiri. Semua dengan tenang mendengarkan uraian para pembicara satu persatu hingga akhir. Bahkan usai istirahat, peserta masih tampak memadati tempat duduk yang disediakan. Tidak terlihat pengurangan jumlah peserta, yang ada malah banyak peserta baru yang datang di sesi kedua usai istirahat. Sementara, para wartawan yang sengaja diundang hadir, pada awalnya tampak oke-oke saja. Tapi setelah para pembicara memulai orasinya, mereka mulai geleng-geleng kepala. Sesekali mengangguk (tak tahu itu tanda mengiyakan atau tanda lainnya). Tapi meski diundang, wartawan tidak boleh membawa tustel atau kamera. Tapi toh begitu, ada 1 wartawan yang berhasil menyelinap diantara peserta dan mengambil gambar secara cepat. Wartawan nakal ini kontan diusir dari arena acara. Tapi ia sudah berhasil mengambil gambar dan dari gambar yang diambil secara diam-diam itulah keluar sejumlah seri foto yang dimuat di koran-koran Australia esok harinya.

Wartawan yang datang memang sangat masygul karena dilarang mengambil gambar. Bukan hanya tidak boleh mengambil gambar, wartawan juga tidak diperbolehkan mewawancarai pembicara secara langsung. Mereka hanya boleh berbicara dengan Wassim Doureihi, Jubir HT Australia. Tapi mereka tidak putus asa. Mereka terus menunggu di luar gedung hingga usai acara, menantikan keluarnya para pembicara terutama M. Ismail Yusanto, yang sejak sebelum acara memang terus disorot. Tidak mau kalah dengan wartawan, panitia segera melarikan M. Ismail Yusanto dan Issam Amera lewat lift yang dijaga agar tidak berhenti di tiap lantai, langsung ke lapangan parkir di basement. Dengan dua mobil terpisah, keduanya dengan cepat dilarikan keluar gedung. Menyadari buruannya mungkin telah keluar gedung lewat jalan lain, sejumlah wartawan berlari-lari menuju tempat parkir basement, tapi orang yang diburunya sudah lolos.

Apa komentar peserta usai mengikuti acara konferensi ? Rusydan Muhammad, muslimah aktifis dakwah yang sudah lama tinggal di Australia mengatakan, ‘Bagi saya pribadi, conference minggu kemaren itu sangatlah penting dan bagus. Mengingatkan ummat Islam kembali akan kondisi mereka yang terpuruk dan bahwa mereka bisa bangkit dari kondisi yang semakin terpojok dan terhina saat ini. Memang hanya 500 orang yang mendengarkan, namun jika diantara 500 orang ini aktif untuk berdakwah, insyaAllah akan semakin banyak ummat Islam yang sadar akan kondisinya saat ini ‘. ‘Semoga kita menjadi orang-orang pilihan, dan tetap istiqomah dan ikhlas dalam menjalankan dakwah ini, tidak peduli dengan apapun tuduhan yang dilemparkan orang-orang fasiq, selama kita yakin kita memegang Islam, InsyaAllah Allah akan selalu beserta orang-orang yang menolong Agama Allah’, katanya mantap. ‘It is very good, very good. Alhamdulillah’, ucap Abdullah Ahmad yang datang berlima dari Melbourne.

Zulkarnain, yang asli Padang, dan sudah puluhan tahun tinggal di Sydney mengatakan, konferensi ini sangat bagus. Topik ketiga tentang Tantangan-tantangan potensial pasca berdirinya khilafah, telah menjawab keraguan banyak kalangan di Sydney tentang apa yang bakal terjadi nanti dan bagaimana cara menghadapinya. Beberapa peserta tampak berpelukan hangat. Terharu. Sejumlah peserta merangsek ke depan, ke meja pembicara untuk menyalami pembicara dan menyampaikan salut. Yang paling bahagia tentu saja adalah panitia karena meski dibawah tekanan, akhirnya konferensi bisa berjalan dengan sukses

Wassim Doureihi, Media Representative atau Jurubicara Hizbut Tahrir Australia di akhir acara menyatakan: “Konferensi khilafah ini dilaksanakan dibawah tekanan, intimidasi dan kampanye hitam yang menimbulkan salah informasi. Suksesnya konferensi ini menunjukkan dengan sangat gamblang keinginan komunitas muslim di Australia untuk menolak setiap usaha membungkam aspirasi politik Islam.”

Mengomentari seruan Gubernur New South Wales, Morris Iemma dan Deputi Gubernur NSW, John Watkins dan pejabat Imigrasi Tony Burke yang gencar dilakukan untuk melarang Hizbut Tahrir (baca Menyimak Kontroversi Pasca Konferensi), Wassim Doureihi menegaskan, “Tampaknya para pejabat federal dan negara bagian hanya tertarik untuk memainkan isu keamanan nasional. Harus ditanyakan mengapa mereka harus melarang Hizbut Tahrir yang tengah berjuang bagi terwujudnya pemerintahan Islam yang representatif di dunia dan mengapa pula perjuangan untuk melawan tirani dan penindasan di dunia Islam harus dianggap kriminal.” Karenanya, menurut Wassim, Hizbut Tahrir Australia akan berkirim surat meminta penjelasan dari mereka atas penyataan-pernyataannya yang terus menyudutkan Hizbut Tahrir Australia. (Kantor Jubir HTI)

http://hizbut-tahrir.or.id/main.php?page=headline&id=87

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: