SANTRI KIRI

Santri yang diindetik dengan memakai sarung, baju koko dan peci dekil. Santri tidak saja belajar kitab kuning tetapi juga kitab putih. Walau santri berpenampilan kampungan tetapi juga belajar idelogi dunia dan filsafat. Walau tiap hari hanya makan nasi dengan lauk garam kadang puasa karena tidak punya makanan. Mandinya di sungai dengan sabun cuci karena sabun mandi tidak kebeli. Santri ini adalah santri kampung yang tidak mengenal gaya kota. Tapi otaknya tidak kampungan. Kawan santri semua, group ini tempatnya fardhu ‘ain untuk beda pendapat dan sepakat untuk tidak sepakat. TAPI SANTRI KIRI TIDAK ATEIS.

Deklarasi Partai Islam

Deklarasi Partai Islam

Hari ini, di Jakarta, empat pimpinan partai politik Islam yang akan mengikuti Pemilu 1955 mengeluarkan pernyataan bersama. Deklarasi yang dikeluarkan bukan pernyataan koalisi atau pun pernyataan sikap kepada pemerintah, melainkan ditujukan kepada anggota dan simpatisan masing-masing partai.

Ada tiga butir pernyataan yang ditandatangani. Pertama, menjaga agar perbedaan paham di lapangan politik jangan merusak ukhuwah Islamiyah. Kedua, bersama menciptakan suasana tidak saling menyerang dalam kampanye masing-masing partai. Ketiga, menghimbau agar semua pengurus, anggota dan simpatisan bertindak sesuai dengan deklarasi ini.

Ada empat partai Islam yang menandatangani deklarasi, yaitu Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia), NU (Nahdlatul Ulama) dan Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah). Masing-masing diwakili oleh Mohammad Natsir dari Masyumi, Arudji Kartawinata dari PSII, KH Dahlan dari NU dan H. Rusli Abdulwahid dari Perti.

Deklarasi ini dikeluarkan untuk mengantisipasi munculnya friksi antara masing-masing pengikut partai Islam menjelang kampanye Pemilu 1955. Kekhawatiran itu tentu saja beralasan mengingat di level sesama elit partai Islam pun gesekan dan friksi itu sering mencuat.

Umat Islam bukannya tidak mengharapkan koalisi atau persatuan permanen di kalangan partai-partai Islam. Bayangan akan persatuan, yang termanifestasikan dengan baik dalam frase seperti ummat Islam atau Ukhuwah Islamiyah, tetap dipelihara, kendati harus sebagian besar umat menyimpan rasa pesimis yang tak kalah akutnya. Gagasan ihwal kemungkinan persatuan partai politik Islam praktis hancur sewaktu NU menyatakan diri keluar dari Masyumi pada 1952.

Perpecahan di kalangan partai Islam disebabkan banyak soal. Dari mulai ambisi pribadi sejumlah eksponen partai Islam yang pada masa kolonial sudah punya kedudukan politik yang masih ingin memainkan peran pada masa kemerdekaan, persoalan-persoalan ideologis antara aktivis Masjumi dari kaum modernis yang oleh kalangan tradisional (Perti dan NU) dianggap menyepelekan para ulama hanya karena mereka punya ijazah pendidikan barat. Belum lagi soal-soal teknis pembagian “jatah” kursi di Kabinet, seperti yang terjadi dalam kasus keluarnya NU karena dipicu, salah satunya, soal jabatan Menteri Agama.

Perpecahan dalam konteks Pemilu 1955 sendiri sudah tampak ketika wakil-wakil Masyumi tidak dimasukkan dalam Panita Pemilu Indonesa (PPI). NU, PSII dan Perti sendiri memilih diam dan membiarkan Masyumi sendirian memerjuangkan kepentingannya dalam PPI.

Kekhawatiran itu memang terbukti. Selama masa kampanye dan Pemilu, friksi dan bentrokan antar sesama partai Islam bukan sekali dua muncul. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, friksi antara Masumi dan NU mencuat berkali-kali. Sementara di daerah Sumatera Tengah, Masyumi dan Perti berseteru. Friksi itu kebanyakan tidak menyoal pendirian atau sikap politik mutakhir, melainkan justru dipicu oleh propaganda yang menyinggung materi-materi yang menjadi sumber laten perpecahan di kalangan umat Islam, seperti soal mazhab, ijtihad hingga taklid.

Harapan menyaksikan partai-partai Islam bergabung ke dalam satu front sempat terwujud menyusul kebijakan fusi partai politik yang diterapkan Orde Baru di awal dekade 1970-an. Tapi karena fusi itu lebih merupakan intervensi negara ketimbang konsensus yang dibangun bersama secara sadar, fusi itu tak memiliki daya rekat.

Terbukti, ketika sistem multi partai kembali muncul pasca reformasi 1998, partai-partai Islam kembali bermunculan dengan bendera sendiri-sendiri.

Taufik Rahzen
(Periset: Arief Rahman Topan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: