SANTRI KIRI

Santri yang diindetik dengan memakai sarung, baju koko dan peci dekil. Santri tidak saja belajar kitab kuning tetapi juga kitab putih. Walau santri berpenampilan kampungan tetapi juga belajar idelogi dunia dan filsafat. Walau tiap hari hanya makan nasi dengan lauk garam kadang puasa karena tidak punya makanan. Mandinya di sungai dengan sabun cuci karena sabun mandi tidak kebeli. Santri ini adalah santri kampung yang tidak mengenal gaya kota. Tapi otaknya tidak kampungan. Kawan santri semua, group ini tempatnya fardhu ‘ain untuk beda pendapat dan sepakat untuk tidak sepakat. TAPI SANTRI KIRI TIDAK ATEIS.

Reposisi Islam-Sosialis

Reposisi Islam-Sosialis

Oleh: Irfan Anshari SP*

BEBERAPA waktu lalu—dalam harian ini—terdapat beberapa tulisan yang mengangkat wacana seputar masalah Islam dan sosialisme. Pembahasan berkisar pada tataran konsepsi teoritik maupun praksis. Wacana ini memang menarik seiring dengan eskalasi politik internasional yang saat ini begitu hegemonik dan eksploitatif dibawah kendali negara-negara besar yang despotik. Tesis Francis Fukuyama—dalam The End of History and The Last Man—yang menyatakan Kapitalisme sebagai babak akhir sejarah, memang benar-benar patut dipertanyakan. Bagaimanapun, praktik kapitalisme dengan berbagai bungkusnya telah memperlihatkan wajah yang sebenarnya. Globalisasi yang selama ini begitu diagung-agungkan dan diyakini akan memberikan welfare equality bagi dunia ternyata isapan jempol belaka.

Sehingga wajar, praktik kapitalisme—yang meniscayakan adanya imperialisme—tersebut menumbuhkan kebencian kolektif serta perlawanan dari seluruh kawasan dunia. Yang menarik, perlawanan ini ternyata dapat mempersatukan golongan yang selama ini memiliki background ajaran yang berbeda, yaitu kelompok Islamis dan kelompok sosialis Sebelumnya penulis ingin menekankan, baik Islam maupun sosialisme merupakan ideologi, yang karenanya memiliki potensi untuk diterapkan. Di sini, penulis mencoba sedikit menelusuri falsafah dasar dari kedua ideologi ini dan bagaimanakah seharusnya kita menyikapi permasalahan ini dalam konteks menuju sebuah kemenangan yang dicita-citakan.

Islam Sebagai Ideologi

DR Samih ‘Athif az Zayn dalam bukunya Al Islam Wa Idiyulujiyyah al-Insan mendefinisikan Islam sebagai agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya dan dengan sesamanya. Hafidz Abdurrahman (2004) memberikan deskripsi menarik mengenai definisi di atas, bahwa Batasan Islam sebagai “agama yang diturunkan oleh Allah Swt” telah memproteksi agama yang tidak diturunkan oleh Allah Swt. Ini meliputi agama apapun yang tidak diturunkan oleh Allah Swt, baik Hindu, Budha, Sintoisme, ataupun yang lain. Sedangkan batasan “kepada Nabi Muhammad Saw” telah memproteksi agama lain selain agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, baik agama yang diturunkan kepada Nabi Musa, Nabi Isa maupun yang lain, apakah Kristen, Yahudi ataupun agama-agama Nabi dan Rasul yang lain. Mengenai batasan “yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya dan dengan sesamanya” merupakan deskripsi yang komprehensif meliputi seluruh aspek, mulai dari urusan dunia sampai akhirat, baik yang menyangkut dosa, pahala, surga, neraka, maupun akidah, ibadah, ekonomi, sosial, politik, budaya, pendidikan dan sebagainya.

Penjelasan di atas sudah lebih dari cukup untuk menegaskan, Islam merupakan ideologi. Sebuah ideologi bukan hanya memiliki sekumpulan pemikiran (fikrah/tought) yang dapat memberikan solusi dari setiap permasalahan yang dihadapi manusia, tapi juga bagaimana mewujudkan solusi tersebut di tengah-tengah kehidupan (thoriqoh/method). Perintah untuk melaksanakan hukum Islam juga disertai dengan penjelasan bagaiman pelaksanaan hukum tersebut, siapa yang memiliki otoritas untuk melaksanakannya, dsb.

Dialektika Materialisme

Sosialisme juga memenuhi syarat sebagai sebuah ideologi. Karena ia memiliki ide dasar sekaligus metode pemecahan terhadap berbagai masalah kehidupan (terlepas dari sesuai tidaknya pemecahan tersebut dengan fitrah manusia). Secara historis, gagasan sosialisme—include komunisme—merupakan antitesis dari kekuatan hegemonik di Eropa era aufklarung. Dalam Manifesto Communist, Marx mencita-citakan masyarakat tanpa kelas. Teori Dialektika materialisme menjadi metode baku yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Menurut Ghanim Abduh (2003), Dialektika materialisme merupakan cara pandang peristiwa alam yang bersifat dialogue, yaitu metode pembahasan dan penelitian yang membongkar kontradiksi pemikiran dan benturan antar berbagai pandangan melalui diskusi atau dialog. Di samping karena argumentasi dan pandangannya terhadap berbagai peristiwa alam ini bersifat materi. Cara pandang seperti ini juga diimplementasikan dalam pembahasan tentang kehidupan masyarakat berikut berbagai kasus yang terjadi di dalamnya.

Teori Marx telah memberikan inspirasi besar bagi orang-orang kritis waktu itu. Puncaknya, Vladimir Illich Ulyanov (Lenin) mendirikan negara Komunis pertama—Uni Soviet—dengan sebuah revolusi berdarah menggulingkan kekuasaan Tsar. Sebagai ideolog komunis terkemuka, Lenin telah meletakkan dasar-dasar pemerintahan komunis dengan tangan besinya. Semangat perlawanan ala Lenin juga diikuti oleh rezim-rezim komunis lainnya. Jutaan nyawa harus meregang akibat pemerintahan otoriter yang dipraktikkan oleh mereka. Amartya Sen dalam The Black Book of Communism memperkirakan jumlah orang yang tewas akibat sosialisme-komunisme mencapai angka 100 juta (Chomsky, 2003). Cita-cita sosialisme—menghapus penindasan kapitalisme—ternyata diganti dengan penindasan ala komunis yang tidak kalah mengerikan. Sentralisasi kekuasaan yang absolut melahirkan slogan “negara adalah saya”. Karena kelemahan internal yang akut inilah akhirnya Uni soviet runtuh.

Dalam perkembangannya, bermunculan berbagai varian pemikiran dari ideologi sosialisme ini. Hanya saja—sepanjang pengamatan penulis, mereka tetap disatukan oleh metode baku dalam perjuangan dan penerapannya. Perbedaan antar golongan kiri ini tidak menyentuh fundament dasar gerakan.

Mempertegas Diferensiasi

Tidak dapat dipungkiri, ada beberapa konsep Islam yang memiliki kemiripan dengan konsep ajaran—baik agama ataupun ideologi—lain. Ajaran saling kasih sayang antarsesama manusia jelas bukan monopoli Islam. Larangan penumpukan kapital oleh individu atau swasta mungkin berbanding lurus dengan konsep inti ajaran ideologi sosialis. Hanya saja, persamaan perkara cabang (furu’iyah) seperti ini tidak secara otomatis membuat kedua ideologi ini identik. Masing-masing ideologi memiliki perbedaan fundamental. Ajaran Islam berasal dari Allah Swt, sementara ajaran sosialisme murni dari hasil karya cipta manusia. Asas tauhid (dua kalimat syahadat) tentu berseberangan secara diametral dengan dialektika materialisme yang melihat segala sesuatu secara kebendaan (materi). Konsekuensinya, sistem yang lahir dari kedua rahim ideologi ini juga mutlak berbeda. Adanya beberapa kesamaan hanya merupakan sebuah “kebetulan” . Sehingga secara ‘itiqodi (keyakinan hati), setiap muslim wajib meyakini hal ini dengan sebenar-benarnya agar kemurnian aqidahnya tetap terjaga.

Kita juga seharusnya hati-hati dalam menggunakan istilah. Secara terma, istilah Sosialisme Islam—sebagaimana halnya Demokrasi Islam—adalah frase yang kontradiktif. Reposisi istilah dirasa perlu untuk menghindari berbagai kerancuan yang sering terjadi. Bahwa setiap istilah memiliki makna khusus sehingga tidak bisa disandingkan begitu saja dengan istilah lainnya (An Nabhani, 2004). Apalagi jika masing-masing istilah terkait dengan pandangan hidup (world view, weltanschauung) tertentu. Hal ini juga berlaku dalam tataran metode operasional.

Dalam berbagai Kitab Sierah, kita bisa melihat bagaimana Nabi Muhammad Saw melakukan sebuah revolusi dalam masyarakat Arab jahiliyah waktu itu. Perjuangan Rasulullah Saw bukannya tanpa halangan. Dari cacian, penganiayaan fisik, pemboikotan, sampai bujuk rayuan dari para pembesar Quraisy. Mereka menawarkan kedudukan, harta, dsb, untuk menghentikan aktifitas Rasulullah, tapi beliau menolak secara tegas (Sierah Ibnu Hisyam, I/261). Rasulullah juga tidak mengenal kata kompromi dalam perjuangannya. Manuver politik yang beliau lakukan sama sekali tidak menunjukkan kompromi beliau dengan pemahaman atau pemikiran lain dalam memperjuangan dan menyebarluaskan risalah yang beliau emban (Qol’ahji, 2005). Karena sesungguhnya, kebenaran hanya ada pada risalah yang beliau bawa, yaitu Islam. Memang banyak riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah pernah berhubungan dan bekerjasama dengan orang-orang kafir. Tapi beliau melakukannya dalam perspektif kemanusiaan yang hukumnya mubah.

Realitas juga menunjukkan, koalisi antara gerakan Islam dengan gerakan lainnya berpotensi melahirkan sikap kompromistik dan pragmatis. Akhirnya, yang hak bercampur dengan yang bathil. Padahal, amal yang diterima oleh-Nya harus benar-benar murni, tidak setitikpun ada noktah. Kita khawatir, idealisme perjuangan mengalami degradasi dan perlahan hilang karena harus menempuh “jalan tengah”. Selain itu, solusi yang ditawarkan oleh kedua ideologi ini juga berbeda. Bahkan sangat jelas perbedaannya.

Mengamati konstelasi politik internasional, mungkin kita bisa mafhum kenapa Presiden Iran (Mahmood Ahmadinejad) dan pemimpin Hizbullah (Sayyid Husain Nasrallah) melakukan “koalisi” dengan beberapa pemimpin Amerika Latin yang sosialis. Mereka mungkin “putus asa” karena pemimpin negeri-negeri Islam yang lain ternyata hanya bungkam melihat kesewenang-wenangan yang dipraktikkan dengan sangat vulgar oleh AS, serta anak emasnya Israel. Apa yang dilakukan oleh negara-negara Arab dan negeri muslim yang lain ketika AS dan sekutunya (NATO) menginvasi Afghanistan dan Irak? Atau ketika Israel membunuhi secara brutal warga Palestina dan membombardir Lebanon dengan alasan ingin membebaskan seorang kopralnya? Bukannya memberikan bantuan, mereka malah mengokohkan cengkeraman imprialisme di wilayah Timur Tengah dengan menyediakan pangkalan militer bagi negara penjajah. Selain itu mereka juga memfasilitasi berbagai perundingan damai yang sepenuhnya menguntungkan negara-negara penjajah.

Disinilah relevansi pentingnya difusi negeri-negeri Islam. Sekat-sekat nationstate yang ada selama ini terbukti membuat kaum muslimin lemah dan begitu mudah dikuasai. Mereka disibukkan oleh berbagai masalah dalam negeri, sehingga acuh terhadap penderitaan saudara mereka di belahan bumi lain. Adanya kesatuan—atas dasar Islam—akan membuat kaum muslimin memiliki sebuah negera adidaya yang mampu mengimbangi kekuatan imperialisme global saat ini. Seluruh kaum muslimin dari berbagai elemen harus memadukan potensi yang ada untuk bersama-sama memperjuangkannya. Apalagi, kemenangan Islam merupakan sebuah keniscayaan (lihat QS An Nuur (24) ayat 55). Alhasil, kaum muslimin tidak perlu berkolaborasi dengan negara atau gerakan perlawanan apapun—yang secara ideologis berbeda—untuk mencapai kemenangan tersebut.***

*)Karyawan Bagian Akademik FKIP UNLAM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: