SANTRI KIRI

Santri yang diindetik dengan memakai sarung, baju koko dan peci dekil. Santri tidak saja belajar kitab kuning tetapi juga kitab putih. Walau santri berpenampilan kampungan tetapi juga belajar idelogi dunia dan filsafat. Walau tiap hari hanya makan nasi dengan lauk garam kadang puasa karena tidak punya makanan. Mandinya di sungai dengan sabun cuci karena sabun mandi tidak kebeli. Santri ini adalah santri kampung yang tidak mengenal gaya kota. Tapi otaknya tidak kampungan. Kawan santri semua, group ini tempatnya fardhu ‘ain untuk beda pendapat dan sepakat untuk tidak sepakat. TAPI SANTRI KIRI TIDAK ATEIS.

Membisniskan Kemiskinan

Posted by yudiwah pada Maret 25, 2007

Membisniskan Kemiskinan
Oleh Donny Anggoro*

Judul di atas bisa jadi bermakna pada imbauan yang menyesatkan. Baiklah, kemiskinan adalah penyakit sosial nomor satu bangsa yang masih sulit dibendung. Baiklah, kemiskinan adalah problem bersama yang harus segera ditanggulangi dengan membentuk pelbagai program pemerintah pengentas kemiskinan seperti JPS dan lain-lain.

Tapi, pada kenyataannya kemiskinan telah mendapatkan bentuknya yang kian keruh. Seiring dengan perkembangan zaman, wajah kemiskinan malah bertiwikrama pada bentuk-bentuk ketidakwajaran yang seolah dimafhumkan. Ia telah menjadi ladang baru yang menjanjikan dengan tak lagi menjadi bagian dari kepasrahan jiwa yang lungkrah di tengah gagapnya modernisasi.

Ia telah menjadi alasan dari seni hidup manusia sebagai pribadi homo ludens. Kemiskinan telah berubah maknanya dari kepasrahan menjadi “jargon” tersembunyi atas kepentingan sendiri. Ia telah berubah maknanya dari sekedar bertahan hidup menjadi alasan untuk melakukan pelbagai tindakan tak terpuji. Kemiskinan adalah bagian dari sebuah tragedi komedi manusia. Ia telah menjadi cara-cara penafikan atas nama kegilaan dan peradaban.

Eksistensialisme menurut William Barret dalam Existensialism as A Symptom of Man Contemporary Crisis (“Spiritual Problem in Contemporary Literature”, Stanley Romain.H (ed.) New York, Harper Torch Book) mencoba membedah berbagai sisi kehidupan manusia dengan mempertanyakan kembali arti dan tujuan hidup, kebebasan, kecemasan, derita, harapan, serta nasib tentang kematian atau ketiadaan.

Tapi apapun yang terjadi, sosok manusia tetap meninggalkan sebuah misteri. Kita tetap saja sulit memahami diri sendiri secara utuh. Kegagalan memahami hal-hal tersebut antara lain tercermin dalam perilaku memandang kemiskinan sehingga ia semakin tak terduga dan sulit dipahami.

Dengan atas nama kemiskinan, ruang publik telah direnggut maknanya karena telah menjadi bagian dari kehendak untuk berkuasa oleh sekelompok orang dengan “membisniskannya”. Contoh kecil di dalam bus, walau hanya sekali dua kali dengan pernyataan klise “seribu dua ribu tidak membuat Anda miskin”, kemiskinan tiba-tiba menjadi alasan mengerikan bagi sekelompok orang, yaitu kehendak untuk menguasai bentuk kemiskinan lain dengan memimesiskan sebaik mungkin wajah kemiskinan itu sendiri.

Michel Foucault dalam Kegilaan dan Peradaban (Madness and Civilization, Ikon Teralitera Surabaya, 2004) telah meninjau ulang secara historis konsep kegilaan dengan menciptakannya kembali dari kebodohan, penyakit jiwa, irasionalitas, tempat, dan perspektif sosial pada masanya.

Jika merujuk pada anggitan teoritis Foucault, kemiskinan bukan lagi sekedar gejala sosial semata. Kemiskinan telah menjadi bagian dari kegilaan yang kompleks. Kemiskinan dalam narasi besar telah menjadi sebuah manifestasi ‘jiwa’ sehingga ia menjadi ladang para pemegang kebijaksanaan yang terbukti tengah terkooptasi sikap-sikap memenangkan diri sendiri semata untuk menjadi bagian kehendak untuk berkuasa laksana gagasan Nietzsche dalam The Will to Power. (St. Sunardi, Nietzsche, LKis, 1996)
Kemiskinan sebagai bentuk psychical reality (Feminism and Psychoanalysis, A Critical Dictionary, Elizabeth Wright (ed.), Blackwell Reference, 1992) serta merta telah berpijak pada kesalahan tak menerima kenyataan lantaran ia berdasarkan pada fantasi yang kemudian direpresikan menjadi komoditi.

Pinjaman utang luar negeri yang akhirnya tak terbayar adalah contoh wajah kemiskinan yang dibisniskan para pemegang keputusan untuk kepentingan diri sendiri. Penyelewengan dana bantuan korban bencana alam di Aceh, kedatangan pejabat di daerah bencana alam atau daerah konflik yang nyatanya hanya bermakna “charity show” kepada publik juga adalah sarana membisniskan kemiskinan. Sedangkan pada narasi kecil kemiskinan telah dikomoditaskan dengan mempekerjakan anak-anak menjadi gelandangan dan pengemis. Kemiskinan menjadi lahan baru yang lebih menawarkan kemudahan dan kemalasan dari semua strata sosial.

Harga kepercayaan menjadi mahal. Kepercayaan yang kini mahal akhirnya menggiring kita pada rasa curiga serta sikap pesimis yang sulit terbantah dan maklum adanya tatkala menghadapi bentuk-bentuk irasionalitas. Heraclitus mengatakan bahwa manusia sesungguhnya sedang putus hubungan dengan sesuatu yang hakekatnya dekat dengan dirinya sehingga ia selalu terobsesi untuk menemukan kembali mata rantai yang hilang (missing link). Namun mata rantai yang hilang itu akan sulit ditemukan jika deklarasi Foucault tentang “kematian manusia” benar adanya dalam menyikapi wajah kemiskinan yang kini bermalih rupa menjadi ladang bisnis. “Kematian manusia” yaitu hilangnya konsep manusia sebagai pusat pengetahuan sehingga mereka sesungguhnya menjadi bentuk yang menyerupai karena manusia telah hilang unsur kemanusiaannya.

Kemiskinan lantas menjadi fenomena multidimensi karena toh sama halnya dengan seks, kemiskinan mencakup ke seluruh aspek mulai dari biologis, psikologis, sosial, behavioral sampai sosio-kultural yang terintegrasi dalam perilaku.

Sulitnya berpijak dari kemiskinan tatkala rasa frustrasi demikian kuat melanda membuat kemiskinan menjadi pemahaman yang seolah benar adanya. Membisniskan kemiskinan adalah contoh tragedi “kematian manusia” yang sedang sulit menyelamatkan kehidupannya. Sidney Hook, profesor ahli filsafat terkemuka Amerika pernah berkata bahwa untuk menyelamatkan kehidupan, manusia harus siap sedia kehilangan kehidupan. Jika seseorang tak siap sedia untuk kehilangan maka sejatinya ia akan menyerah kalah kepada yang biadab.

Baiklah, jika kemiskinan telah menghimpit kita dalam bentuk ketidakwajaran, lantas apa sebenarnya yang kita butuhkan? Keberanian untuk berkorban seperti ujaran Sidney Hook? Atau sebaliknya, kita masih terbelenggu dalam ketakutan? Lantas jika ketakutan untuk berubah saja sudah tumbuh benarkah kita sudah menjadi bangsa merdeka?

Akhirul kalam, semoga pertanyaan-pertanyaan inilah yang barangkali dapat dijadikan acuan bersama dalam menuju perubahan.

Rawamangun, Januari’ 05

*) Editor sebuah penerbit, pemerhati masalah sosial, agama dan kebudayaan, tinggal di Jakarta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: