SANTRI KIRI

Santri yang diindetik dengan memakai sarung, baju koko dan peci dekil. Santri tidak saja belajar kitab kuning tetapi juga kitab putih. Walau santri berpenampilan kampungan tetapi juga belajar idelogi dunia dan filsafat. Walau tiap hari hanya makan nasi dengan lauk garam kadang puasa karena tidak punya makanan. Mandinya di sungai dengan sabun cuci karena sabun mandi tidak kebeli. Santri ini adalah santri kampung yang tidak mengenal gaya kota. Tapi otaknya tidak kampungan. Kawan santri semua, group ini tempatnya fardhu ‘ain untuk beda pendapat dan sepakat untuk tidak sepakat. TAPI SANTRI KIRI TIDAK ATEIS.

PESANTREN: Benteng Kejayaan ISLAM Dari Zaman Ke Zaman

Posted by yudiwah pada Maret 24, 2007

PESANTREN: Benteng Kejayaan ISLAM Dari Zaman Ke Zaman
Oleh Sides Sudyarto DS

Pesantren sebagai ajang penggemblengan umat Islam di Indonesia pada umumnya, di Pulau Jawa khususnya, mempunyai peran yang sangat bersejarah sebagai benteng Islam. Sejak zaman Wali Songo hingga sekarang ini, pesantern tidak lekang karena panas, tidak lapuk karena hujan. Pesantern tidak penah surut, sebaliknya semakin bertambah dalam jumnlah, kian maju di bidang ilmu.

Kata pesantren beasal dari khasanah bahasa Jawa, asal kata Santri, lalu menjadi pe-santri-an maka jadilah istilah pesantrian, yang dilazimkan dilafalkan menjadi pesantren. Santri, adalah siswa atau murid lelaki atau perempuan. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia sususnan W.J.S Poerwadarminta, kata santri berarti: Orang yang menalami pengajian dalam agama Islam (dengan prgi ke pesantern dsb. Arti kdua: Orang yang beribadat sungguh-sungguh. Sekarang ini malah umum dipakai sebutan santriwan (pria) dan santriwati (puteri). Namun demikian istilah murid atau siswa lebih umum dipergunakan untuk mereka yang belajar di sekolah umum, yakni bukan di madrasah atau pesantern. Mungkin ini berdasarkan kebiasaan kita memakai akhiran wan dan wati, seperti dalam istilah wartawan-wartawati, karyawan-karyawati, peragawan-peragawati, seniman-seniwati, dsb.

Pesantren umumnya bersifat mandiri, sebab tidak tergantung kepada pemerintah atau kekuasaan yang ada. Karena sifat mandirinya itu, pesantern bisa memegang teguh kemurniannya sebagai lembaga pendidikan Islam. Karena itu pesantren tidak mudah disusupi oleh ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tidak semua oang mau dan mampu mendirikan pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan. Dalam sejarahnya, pesantren selalu didirikan oleh ulama yang sudah menyandang predikat kyai. Malah ada pendapat,bahwa seorang ulama pantas menyandang gelar kyai, apabila ia sudah mendirikan atau memiliki pesantren.

Tentang kyai, Zamakhsyari Dhofier, Ph,D. menulis sebagai berikut: “Kyai merupakan elemen yang paling esensial dari suatu pesantern. Ia seringkali bahkan merupakan pendirinya. Sudah sewajarnya bahwa pertumbuhan suatu pesantern semata-mata bergantung kepada pribadi kyainya.” (Dhofier, 1982:55)

Seorang kyai ternyata tidak hanya memberikan ilmunya kepada santrinya. Pak Kyai itu juga mesti mengelola pesantrennya sedemikian rupa sehingga teteap eksis, syukur bisa makin berkembang jumlah santri maupun kualitas pendidikan dengan dukungan sarana yang semakin meningkat. Dengan demikian, kyai, bukan hanya seorang pengajar atau pendidik, tetapi sekaligus juga pejuang. Sungguh tidak mudah mengelola, mulai dari mempertahankan hingga mengembangkan pesantren. Sebab selain memerlukan banyak tenaga pengajar juga diperlukan dana untuk perawatan sarana dan fasilitas fisiknya.

Hubungan kyai dengan santri dalam satu pesantren saling terkait satu sama lain. Tidak akan ada pesantern, jika tidak ada kyainya. Sebaliknya sebuah pesantern tidak bisa disebut demikian, tanpa ada santrinya. Lembaga pesantern biasanya dilengkapi dengan kehadiran masjid. Masjid merupakan bagian yang integral dari setiap pesantren.Haruslah kita sadari selalu bahwa shalat itu adalah tiang agama. Maka jika roboh shalatnya, maka juga robohlah agama seseorang.

Santri bisa digolongkan dua macam. Ada santri yang menetap (mukim) di pesantern, ada santri yang tidak menetap, tetapi pulang seusai belajar (nglaju). Maka lahilah sebutan santri mukim dan santri yang nglaju, lazim disebut santri kalong. Karena adanya santri mukim itu diperlukan tempat untuk mondok. Maka wajar bila dalam pesantren terdapat pondok. Dalam bahasa sehari-hari, apabila ada orang bilang “mau mondok” artinya mau bermukim di sebuah pesantren.

Untuk kegiatan pembelajaran, sudah tentu diperlukan bahan-bahan yang merupakan sumber atau pedoman pokok, yang berupa kitab-kitab Islam klasik. Apabila dimati secara saksama, bukan hanya para santri yang belajar. Para kyai juga dinamis, tidak statis. Dalam arti kyai pun selalu berusaha menambah kekayaan keilmuannya. K.H. Mahali (alm), kyai dari Desa banjaranyar, Balapulang, Tegal, misalnya, setiap bulan Ramadhan, pergi menambah ilmunya ke pesantren Babakan, yang terletak di selatan Kota Teh Slawi.
Di zaman sekarang ini, kita mengenal istilah long life education atau pendidikan seumur hidup. Itu bukanlah barang baru bagi umat Islam di Indonesia. Sebab umat Islam mempunyai semboyan, bahwa menuntut ilmu itu mulai dari ayunan hingga istirahat di liang lahat. (Bahasa Jawa: Awit soko ayunan tumekan delahan).

Di pesantren, seorang santri tidak melulu belajar agama. Selain bersembahyang dan mengaji, mereka juga berlatih membina diri. Di pesantern itu mereka belajar mandiri dalam banyak hal. Masak sendii untuk keperluan makan, mencuci sendiri, misalnya. Di pesantern itu mereka juga bersosialisasi dengan sesama santri, berinteraksi dalam bidang keilmuan. Tidak hanya itu. Santri senior juga bisa berperan positif bagi para yuniornya. Santri yang sudah lebih dulu berpengalaman bisa berperan bagi kemajuan pesantrennya, di bawah bimbingan Sang Kyai.Demikianlah, Dhofier menyimpulkan berbagai elemen dalam suatu pesantren: Masjid, Pondok, Pengajaran Kitab-kitab Islam Klasik, Kyai dan Santri. Dalam pesanter, seorang santri tidak melulu belajar ilmu-ilmu Al-Quran, tetapi juga menimpa akhlak, membentuk jati diri Muslim. Karena itu tidaklah aneh, jika pesantren banyak melahirkan pribadi-pribadi Muslim yang masing-masing merupakan kekuatan penjaga moral bangsa dalam kapasitasnya masing-masing. Pesantern dengan demikian bisa diharapkan dan mampu menjadi sumber pencerahan bagi masyarakat kita yang konon kini sedang dilanda krisis moral.

Apabila kita percaya bahwa pesantren punya potensi menjadi sumber daya pencerah bangsa, mestinya kita bisa optimistis bahwa penyaskit moral kita akan bisa disembuhkan pada waktunya. Sebab kita mempunya banyak pesantern. Pada tahun 1831, sedikitnya 13 kabupaten sudah memiliki lembaga pendidikan Islam: Cirebon, Semarang, Kendal, Demak, Grobogan, Kedu, Surabaya/Mojokerto, Gresik, Bawean, Sumenep, Pamekasan, Besuki, Jepara. Dari semua kabupaten itu tersebut terdapat 1.853 lembaga pendidikan dengan total murid 16.556 orang.

Dalam abad ke-19 dan ke-20, pusat-pusat pesantern bertaburan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, yakni di kota-kota: Banten, Bogor, Purwakarta, Garut, Tasikmalaya, Cirebon, Banyumas, Tegal, Brebes, Pemalang, Kebumen, Kendal, Kaliwungu, Muntilan, Yogyakarta, Klaten, Semarang, Demak, Surakarta, Pati, Pacitan, Rembang, Ponorogo, Kediri, Jombang, Tuban, Lamongan, Mojokerto, Sedayu, Gresik, Surabaya, Bangkalan, Bangil, Pasuruan, Malang, Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Banyuwangi dan Bawean. Belum lagi pesantren yang berada di luar Pulau Jawa.

Dengan demikian, pesantren selain berfungsi sebagai benteng kejayaan Islam, juga menjadi benteng keselamatan bangsa ini, dari zaman ke zaman. Kita mengenal pesantern besar, juga pedantern kecil. Tetapi semua itu mempunyai peranan yang sama, yakni mengajarkan dan menyebarkan Islam ke segala penjuru masyarakat, Tambahan pula, kini semakin banyak pesantren yang berupaya serius untuk terus mengembangkan sistem dan kualitas pendidikan bagi para santrinya. Modernisasi pesantren, yang memungkinkan ilmu-ilmu seperti sosiologi, bahasa-bahasa, juga filsafat, dll, akan memungkinkan para alumninya semakin lengkap bekalnya guna mengabdi kepada sesama umat di kemudian hari.

Sumber:
1. Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, LP3ES, Jakarta, 1982.
2. Jajat Burhanudin, Ahmad Baedowi (Penyunting), Transformasi Otoritas Keagamaan , PT Gramedia Pustaka Utama-PPIM-UIN Jakarta dan Depag, Jakarta, 2003.

Iklan

Satu Tanggapan to “PESANTREN: Benteng Kejayaan ISLAM Dari Zaman Ke Zaman”

  1. assalamu’alaikum wr wb

    just my thinking to share

    saya setuju pesatren memang seharusnya menjadi benteng kejayaan islam dari zaman ke zaman, namun jangan lupa bahwa semenjak bubarnya kekalifahan abbasyah pada tahun 1258 masehi islam mengalami kemunduran yang tragis bahkan sejak 1599 masehi ( spanyol ) hingga tahun 1924 masehi ( turki ) negara-negara islam seluruhnya telah berhasil dijajah barat dan selama itu pula syariat islam berhasil diganti dengan syariat penjajah hingga kini, praktis umat islam kehilangan pemahaman terhadap kerangka kerja syariat islam yang notabene merupakan system pertolongan allah, yang kemudian menyebabkan umat islam tersesat, mengalami mati suri yang berkepanjangan ( very long pause power ) dan mengalami siksa buruk yang berkepanjangan yang hingga kini belum mampu menyingkap selimut kumal untuk bisa segera bangkit lagi dari dari tidur panjang yang sangat tidak nyaman.

    walaupun pada masa kini penjajahan fisik telah berahkir namun pemjajahan system masih ( dalam bentuk globalisasi versi barat )yang diakui atau tidak, dunia kini sepenuhnya telah diatur, dikontrol dan diobok-obok oleh barat ( dalam genggaman barat ), dan menurut hemat saya mayoritas negara-negara islam maupun negara-negara non islam yang mayoritas penduduknya islam ( seperti indonesia ) belum ada yang mampu membangun kembali ( merekontruksi ) pemahaman dan mengamalkan ( mengimplementasikan ) kembali syariat islam secara baik dan benar sebagai system management yang bisa digunakan untuk mengatur ( memanage ) segala urusan ( bisnis sesuai syariat allah > bermu’amallah ) secara tepat guna dan tepat sasaran dalam arti, apapun bisnisnya dan apapun organisasinya, apapun korporasinya, dan apapun bangsanya dalam mewujudkan misi rahmatan lil alamin atau dalam bahasa agamanya memakmurkan masjid-masjidnya.

    setidaknya hal ini terbukti belum ada satupun negara-negara islam yang mengklaim telah mengamalkan syariat islam yang mampu tumbuh secara dramatik dan signifikan disegala bidang menjadi bangsa yang sangat produktive dan kompetitive yang mampu bersaing secara kompetitive dengan umat-umat yang lain seperti amerika dan sekutunya, rusia, china, india, amerika latin.

    bahkan pada kenyataannya banyak negara-negara islam justru banyak yang terjebak menjadi negara yang paling korup ( menyimpang > bid’ah ) papan atas dimuka bumi, tidak produktive ( kontra produktive ), tidak kompetitive ( tidak professional ), tidak memiliki daya tarik, miskin, terbelakang, yang banyak mengalami kekacauan sosial dan mengalami bencana kemanusiaan yang sangat panjang.

    menurut hemat saya lembaga pendidikan islam seperti pondok pesantren hingga peguruan tinggi yang konon telah ada sejak zaman wali songo hingga kini, belum bisa dikatakan sebagai benteng kejayaan islam dari zaman ke zaman, dan menurut hemat saya perlu dievaluasi lagi, apakah telah dikelola sesuai dengan syariat islam ( pemahaman islam ) secara baik dan benar ? karena saya yakin lembaga-lembaga pendidikan islam dikelola ( dimanage ) sesuai syariat islam insyaallah akan menjadi lembaga-lembaga pendidikan yang terbaik yang tidak kalah dengan lembaga-lembaga pendidikan manapun yang ada dimuka bumi, yang mampu menghasilkan ( memproduce ) manusia yang berkualitas ( berilmu dan berahklak mulia ) yang kemudian mampu mendirikan bisnis, apapun bisnisnya dan apapun organisasi ( mendirikan lapangan kerja ) yang juga dikelola sesuai syariat islam atau dalam bahasa agamanya mendirikan sholat atau mendirikan masjid yang mampu menyejahterakan seluruh orang-orang yang ada didalamnya ( memakmurkan masjid-masjid allah ) sesuai prinsip-prinsip rahmatan lil alamin ( stake holder satisfaction )

    kalau begitu kejadiannya saya menyakini islam bisa segera bangkit kembali dan lembaga pendidikan islam ( pesantren ) bisa disebut benteng kejayaan islam.

    insyaallah komen ini dapat menginspirasikan para pengelola pondok pesantren bukan hanya sesuai dengan kepribadian kyai nya tetapi lebih sesuai dengan standard system management islam ( syariat islam ), ahkirnya saya mohon ma’af kalau komen saya tidak berkenan

    wassalamu’alaikum wr wb.

    hp 0813 642 99 800

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: