SANTRI KIRI

Santri yang diindetik dengan memakai sarung, baju koko dan peci dekil. Santri tidak saja belajar kitab kuning tetapi juga kitab putih. Walau santri berpenampilan kampungan tetapi juga belajar idelogi dunia dan filsafat. Walau tiap hari hanya makan nasi dengan lauk garam kadang puasa karena tidak punya makanan. Mandinya di sungai dengan sabun cuci karena sabun mandi tidak kebeli. Santri ini adalah santri kampung yang tidak mengenal gaya kota. Tapi otaknya tidak kampungan. Kawan santri semua, group ini tempatnya fardhu ‘ain untuk beda pendapat dan sepakat untuk tidak sepakat. TAPI SANTRI KIRI TIDAK ATEIS.

Perspektif Lain Agama Sebagai Candu

Posted by yudiwah pada Maret 24, 2007

Perspektif Lain Agama Sebagai Candu

Sumber : Komunitas Ruang Baca Tempo

Aforisme Marx yang cukup terkenal prihal agama ialah “agama adalah
candu dari masyarakat” (It [Religion] is the opium of the people).
Sebenarnya, Marx tidak banyak menulis tentang agama sebagai ideologi,
melainkan ia melihat dari perspektif sosio historiografis masyarakat
yang menjadikan agama sebagai praktik pembenaran sepihak tanpa
implementasi lebih lanjut dalam praktik kehidupan. Kumpulan tulisan
Marx dalam buku Marx Tentang Agama (Teraju, 2003) menjelaskan hal
demikian itu. Dan aforisme diatas tak lain adalah penggalan kalimat
dari sekian kalimat yang membahas hakekat manusia ditengah
kapitalisme kehidupan, dimana peran agama selalu menjadi pertanyaan.

Dikarenakan aforime Marx merupakan satu kalimat yang tidak berdiri
sendiri, maka tak jarang bila kemudian terjadi interpretasi yang
berbeda-beda. Marx bukanlah satu-satunya orang yang diangap anti
agama dan anti tuhan (ateis), masih bayak pemikir lain, terutama yang
beraliran materialisme, mendapat perlakuan sama. Misalnya Ludwig
Feuerbach dan Tan Malaka. Ketiga tokoh inilah yang menjadi kajian
dalam buku ini.

Eko P. Damawan mempunyai perspektif lain dari kebanyakan orang dalam
memahami pemikiran tiga tokoh ini. Baginya, Kritik sekaligus
pemahaman tiga tokoh tersebut terhadap agama adalah upaya membangun
spritualitas keagamaan manusia yang terjewantahkan dalam laku
kehidupan konkrit. Agama diturunkan agar manusia tumbuh dan
berkembang menjadi Manusia-manusia Besar, bukan menjadi manusia-
manisia kecil yanghanya puas dengan kesuksesan-kesuksesannya sendiri.
Menjadi Manusia Besar artinya menjadi manusia yang bejiwa, dan
berpikiran dan berperasaan semesta.(hlm.23)

Relevansi kritik tersebut, seperti yang digambar Darmawan, dapat
dilihat dari cara keberangamaan saat ini yang lebih dekat dengan
modus yang bereksistensi borjuis–kapitalistik ketimbang dengan modus
yang bereksistensi religius secara sosio-hostoris. Ketika kesuksesan
dunia dan akhirat diartikan sebagai kesuksesan ekonomis dan sosial di
dunia dan kesuksesan mendapatkan surga di akhirat, maka agama tak
ubahnya seperti jual beli dalam merebutkan kavling surga. Lantas
hubungan antara Tuhan dengan orang beragama tak ubahnya hubungan
pedangan dan calon konsumen. Surga kemudian digambarkan secara pasif;
sebagai tempat bersenang-senang, tempat dimana segala keinginan
manusia dipuaskan.

Ironisnya lagi bila para pembasar atau elit agama, yang kebanyakan
sukses secara ekonomi dan sosial, bersikap pasif terhadap kezalamin
yang sering tampak dengan pernyataan, misalnya, bahwa Tuhan Maha
Adil, Tuhan Maha Tahu, dan Tuhan Maha Bijaksana, dan sebagainya.
Kemudian setelah itu membiarkan saja, tanpa upaya realistis. Jika
demikian agama hanya menjadi milik kaum elit, dan agama tidak memihak
kaum proletar.

Pemahaman teosentrisme seperti diatas, menurut Darmawan jelas
menunjukkan wajah egosentrisme agama. Agama hanya diartikan sebagai
urusan spiritual ukhrawiah, dan urusan duniawi tidak mempunyai
sangkut paut dengan agama. Yang demikian inilah yang menjadi kritik
pedas, terutama oleh tiga tokoh yang dijadikan kajian dalam buku ini.

Kritik paling pedas yang dilontarkan Feuerbach tentang agama dari
hasil penelusuran Darmawan dari buku The Essence of Christianity-nya
adalah ajaran teosentrisme agama. Baginya, Agama bukanlah tentang
Tuhan yang sewenang-wenang menyuruh manusia untuk patuh pada-Nya,
namun tentang pulihnya kesadaran dalam diri manusia tentang
perjalanan hidupnya, dari mahluk yang terperangkap dari batas-batas
ruang dan waktu menjadi mahluk yang mensemesta. Maka Feuerbach
memaknai agama sebagai ajaran antroposentrisme. Jadi, misi agama
adalah tentang bagaimana manusia turut mengisi atau membentuk
eksistensinya secara konkrit di alam raya ini.

Realitas material yang ada dihadapan manusia bukanlah sesuatu yang
harus dikontraskan dengan Tuhan. Kebenaran manusia bukanlah kebenaran
yang bersifat abstrak, namun adalah kebenaran yang bersifat material,
kebenaran yang bisa dirasakan secara bersama oleh sesama manusia.
Secara tak langsung Feuerbach mengatakan bahwa untuk membumikan agama
manusia harus menunjukkan dengan prilaku konkrit.

Senada dengan itu, kritikan Marx, menurut Darmawan adalah kritik
terhadap cara-cara empiris manusia menjalankan keberagamaannya.
makna “candu” yang dimaksud Marx bukanlah sebagai surga bayangan,
surga yang tidak riil, surga tidak konkrit melainkan sebagai gambaran
hakikat mengenai apakah agama itu. Agama adalah impian dan harapan
akan kehidupan surgawi, namun kehidupan surgawi itu bukanlah surgawi
didunia ini melainkan di sana. Akan tetapi, bila hidup terus-menerus
mencandu, maka secara tak langsung telah melupakan dunia sekitar,
dunia dalam bermasyarakat.

Marx mengajak manusia untuk mentransformasikan agama menjadi apa yang
biasa disebut religiusitas. Agama butuh otoritas eksternal, sementara
religiusitas menggali kearifan dalam diri sendiri. Agama membayangkan
alam dan kebahagian surgawi di sana, sementara religiusitas membangun
alam dan kebahagian surgawi di sini, di dunia konkrit ini.(hlm.182)
Apalagi bila agama hanya diidentikkan dengan keghaiban.

Tan Malaka—dengan Madilog-nya—adalah salah seorang yang mengkritik
logika mistik. Ia, seperti yang disimpulkan darmawan, berpendapat
bahwa inti ajaran agama bukanlah pada kegaiban, yakni pengharapan
surga dan neraka. Seharusnya dengan berkembangangnya kemampuan akal
budi manusia, beragama tidak lagi didasarkan pada–kenikmatan–surga
dan–kesengsaraan–neraka. Kata Tan Malaka; “Jadi teranglah sudah,
bahwa lemah tegunya iman itu tiadalah semata-mata bergantung pada
ketakutan dan pengharapan sesudah kiamat. Jangan dilupakan, bahwa
perkara vital yang menentukan lemah teguhnya iman adalah masyarakat
kita sendiri”.

Seperti halnya Marx, menurut penulis, Tan Malaka juga mengkritik
penjungkirbalikan agama. Yakni, ajaran keghaiban yang pada awalnya
sebagai iming-iming agar manusia mengikuti ajaran Nabi, namun
sekarang diletakkan sebagai yang utama, yang inti. Kritisime demikian
inilah yang seringkali berakhir dengan pengecapan sebagai anti agama,
kafir, murtad dan ateis (anti Tuhan).

Menariknya buku ini adalah penyertaan data (referensi) yang dilakukan
penulisnya. Hal ini menunjukkan keseriusan kajian yang dilakukan.
Misalnya sistematisasi prihal keberagamaan menurut pandangan umum dan
menurut Marx dan Feuerbach. Pertama, mengenai orientasi dan tujuan.
Dalam pandangan umum, keberagamaan bertujuan mendapatkan surga dan
berlimpahan rizki dari Tuhan, sedang dalam Marx dan Feuerbach
bertujuan mengembangkan esensi manusia (akal, budi, kemauan, dan
perasaan) sehingga mensemesta dalam kebersamaan.

Kedua, mengenai aktivitas utama. Menurut pandangan umum aktivitas
utama beragama adalah ibadah, sedangkan menurut Marx dan Feuerbach
adalah bekerja sama membangun dunia yang lebih mulia. Dan ketiga,
mengenai produk masyarakat yang diciptakan. Menurut pandangan umum
ialah masyarakat secara pribadi taat beribadah, namun secara sosio-
historis sibuk dengan cita-cita dan gaya hidup yang pasif dan
konsumtif mereka (masyarkat borjuis), sedangkan menurut Marx dan
Feuerbach ialah masyarakat yang terdiri manusia-manusia besar yang
kemauan, pikiran, dan perasaannya berkembang mensemesta, merasa satu
dengan semesta.

Abd. Rahman Mawazi, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, alumnus
PP. Badridduja Kraksaan-Probolinggo.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: